Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) melalui Regional Director for Europe, Dr Hans Henri P. Kluge telah mengeluarkan pernyataan tentang masa transisi ke kehidupan normal yang baru atau the new normal, meski masih dalam kondisi berhadapan dengan pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Pernyataan terkait the new normal tersebut juga dibarengi dengan panduan dan prinsip kesehatan agar masyarakat siap hidup dalam kenormalan yang baru tersebut.

"Kompleksitas dan ketidakpastian ada di depan kita. Artinya, kita memasuki periode di mana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah dengan cepat," kata Dr Hans Henri P. Kluge di Copenhagen, Denmark, seperti dirilis dari laman resmi WHO, Kamis (16/04/2020) lalu.

Menurut Dr Hans Henri P. Kluge sebelum melangkah menuju the new normal, pemerintah harus membuktikan bahwa transmisi COVID-19 sudah dikendalikan. Dijelaskannya, pelonggaran pembatasan pun harus dilakukan secara bertahap dan otoritas terkait diminta terus mengevaluasi kebijakannya.

Syarat lainnya, lanjutnya, kapasitas sistem kesehatan masyarakat –di antaranya rumah sakit- harus tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19.

Disebutkan pula dalam protokol itu, tata kehidupan baru bisa diterapkan apabila risiko penularan wabah sudah terkendali terutama di tempat dengan kerentanan tinggi, seperi panti jompo.

Masing-masing negara juga diharuskan mampu menerapkan langkah pencegahan di tempat kerja, berupa jarak fisik, fasilitas cuci tangan dan diikuti etika batuk atau bersin. Lebih jauh dijelaskan, protokol WHO juga menyebutkan setiap langkah menuju transisi 'the new normal' harus dipantau oleh otoritas kesehatan.

Lalu, apa sebenarnya new normal yang belakangan berkeliaran di pikiran penduduk dunia, termasuk Indonesia? Di beberapa media sosial yang tampaknya sudah di-share oleh puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang, satu tulisan yang tidak dicantumkan nama penulisnya dengan judul, 'New Normal adalah Matinya Hiperealita. 

Di dalam narasi pembuka tulisan tersebut ditulis, "Pertama-tama saya akan bilang, New Normal ini sebenarnya adalah back to normal. Justru kehidupan kemarin itu yang abnormal. Kedua, saya akan cerita apa itu hiperealita?"

Sederhananya, lanjut tulisan itu, ketika Anda membeli segelas kopi starbuck seharga 40-an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal? Anggaplah, harga dasar kopi itu Rp7 ribu, maka Rp33 ribu sisanya Anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol starbuck. 

"Angka 33 ribu itulah hiperealita. Sebuah kondisi mental yang menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri," lanjut tulisan itu.

Dijelaskan juga bahwa istilah hiperalita diperkenalkan oleh filsuf prancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra.

"Kita sesungguhnya tidak akan menemui hiperealita sedahsyat kemarin andai saja tidak ditemukan yang namanya facebook, instagram, twitter, dan teman-temannya."

"Tiba-tiba, datanglah COVID-19. Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Apa-apa serba dari rumah. Lalu bagaimana nasib para hiperealista? (sebutan saya untuk pelaku hiperealita)."

"Starbuck sepi, kafe sepi, mall sepi. Tidak ada orang yang meng-upload imej-imej mereka di outlet-outlet pendongkrak citra diri itu. Masihkah relevan kebutuhan akan luxury, prestise, dan status hari ini? Masih mungkinkah kita membutuhkan itu? Atau kita langsung ke puncak pertanyaannya, masihkah dibutuhkan hal-hal seperti itu hari ini?"

Penulis juga menyebutkan bahwa pandemi COVID-19 adalah ibarat tombol reset. Sekali ditekan, langsung semua berbondong-bondong menuju ke titik awal. 

"Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yang kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe, dan semua usaha yang menjadikan CITRA, LUXURY, atau PRESTISE sebagai core bisnisnya."

Dilanjutkan lagi, "'Pembatasan Sosial' itu adalah hantu bagi usaha-usaha tadi. Di mana letak kesalahannya kalau begini? Benarkah kehidupan sosial benar-benar dibatasi?

Sebetulnya, kata tulisan itu lagi, tidak salah. Karena menurutnya, yang terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yang wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar-benar overdosis (40k for a glass of coffee?)

"Kesalahannya adalah Starbuck dan kawan-kawan, membasiskan bisnisnya kepada materi YANG imajiner (citra, luxury, prestise, status). Kalau Anda mengira starbuck dkk itu menjual minuman/makanan, sebetulnya tidak. Bisnis mereka adalah jual-beli simbol. Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini, saat itulah simbol-simbol itu runtuh nilai jualnya."

"Apakah ini pertanda buruk? Yap, ini pertanda buruk, yang menunjukan betapa lugunya kita kemarin selama ini rutin bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperealita) kita. Kemarin kita benar-benar dijauhkan dari apa yang benar-benar kita butuhkan. Kita malah membiayai ilusi."

Menurut tulisan tanpa nama penulis itu, the new normal adalah hancurnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal. 

"Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. manusia setara bekerja untuk kebutuhannya. Ketika 'ngopi' mereka ya ngopi untuk menghilangkan penat. Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri. Selesai ngopi kembali ke kehidupannya, (bukannya pindah kasta). Upah yang mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk 'membeli' merek."

"Ketika kondisi di atas dihantam kejadian luar biasa seperti pandemi, kemungkinan tidak akan se-dramatis seperti yang terjadi hari ini. Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mall, starbuck dan kawan-kawan. Bisa terbayang efek domino kehancurannya... Rubuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka. Mereka teralienasi dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa-siapa dan tidak berdaya ketika hilang profesinya."

"Sudah waktunya dunia-dunia usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha-usaha yang nyata (riil) dan beradaptasi bila ingin survive hari ini. Alih-alih mempertahankan bisnis yang sama seolah-olah kita masih hidup di dunia kemarin (gagal move on)."

Dijelaskan juga melalui tulisan tanpa nama penulis itu, the new normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin. Bak jaring laba-lama besar, tertata, tersistem, terstruktur rapi, dan massif. Tetapi, tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.

"New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang kita butuhkan saja. Dan petunjuk atas matinya kebutuhan-kebutuhan halusinasi kita. Seolah-olah, hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yang benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yg nyata.

"It's all done. We' are shifting. Change or we die. Get real. Dunia kita yang kemarin sudah mati."

"Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yang besar. Dan kita tergeletak di dalamnya dan hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup. Pernah melihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit? Itulah matinya hiperealita."

Narasi terakhir dari tulisan tanpa nama penulis itu adalah, "Jika Baudrillard di tahun 80an sudah memikirkan kondisi hiperealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu.

New Normal...??? Welcome normal life... Keep waras... Keep alive.

 

Note: Tulisan sudah diedit sekedar memperbaiki kesalahan tulisan