Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tak main-main dengan ancamannya yang akan mengerahkan ribuan tentara bersenjata lengkap untuk mengamankan demo anti-rasisme di AS. 

Dan pada akhirnya, Pentagon memang mengerahkan 1.600 tentara aktif untuk mengamankan Washington D.C., yang disebut sebagai bentuk respons pemerintah pada protes di ibu kota AS tersebut.

Seperti diketahui, situasi di negeri Paman Sam tersebut mulai genting sejak kerusuhan terjadi karena dipicu oleh kematian seorang warga Afro-Amerika George Floyd yang tewas di 'ujung lutut' oknum polisi di Minneapolis, Senin, (25/05/2020).

George Floyd merupakan seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun yang ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu. Uang yang digunakan George Floyd senilai US$ 20 (Rp 292 ribu). Dalam sebuah video yang menjadi viral, saat penangkapan sang polisi bernama Derek Chauvin, menekan leher Floyd dengan lututnya selama kurang lebih 6 menit.

Padahal saat itu, George Floyd sudah dalam keadaan diborgol dan menelungkup di pinggir jalan. Perlakuan sadis Derek Chauvin inilah kemudian yang membangkitkan semangat anti-rasisme di AS.

Kini, seperti ancaman Donald Trump sebelumnya, Pentagon dikabarkan mengerahkan 1.600 tentara aktif untuk mengamankan Washington D.C. Juru Bicara Pentagon Johnathan Hoffman mengatakan, tentara tersebut dikirim dari Fort Bragg di North Carolina dan Fort Drum di New York. 

Sebelumnya belum pernah ada tentara aktif yang dikirimkan ke area ini, hanya tentara cadangan Garda Nasional.

"Tentara aktif ditempatkan di pangkalan militer di wilayah ibu kota nasional tapi bukan Washington DC," kata Hoffman dalam sebuah pernyataan pada Selasa (02/06/2020) malam dan dikutip pada hari Rabu, (03/06/2020).

"Mereka berada dalam status siaga tinggi tetapi tetap di bawah otoritas dan tidak berpartisipasi dalam pertahanan untuk operasi sipil," tegas Hoffman.

Pernyataan ini keluar setelah Gubernur negara bagian New York, Virginia, Pennsylvania dan Delaware menolak permintaan dari Menteri Pertahanan AS Mark Esper untuk menggunakan pasukan Garda Nasional guna membantu keamanan di Washington.

Garda Nasional sendiri merupakan pasukan yang ditempatkan di 50 negara bagian dan sejumlah wilayah lain di bawah kekuasaan AS. Berbeda dengan tentara aktif, Garda Nasional bekerja paruh waktu.

Di mana sebagian anggota bisa memiliki kehidupan sipil. Saat ini, sekitar 3.600 tentara Garda Nasional terdiri dari 1.300 Washington dan 2.300 dari negara bagian lain, saat ini berada di ibukota.

"Saya mengonfirmasi pasukan tentara nasional dari New York diharapkan datang ke Washington malam tadi (Senin), tapi izin tidak diberikan gubernur," kata Juru Bicara Pentagon lain Lt Kol Chris Mitchell.

Hari ini merupakan hari ke-8 kerusuhan terjadi. Dari yang beredar di berbagai media, di New York sudah ada 200 pemdemo yang ditangkap pihak berwajib.