Ebola menambah daftar penyakit yang harus dihadapi masyarakat Republik Demokratik Kongo selain Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 dan campak.

Krisis kesehatan akibat Ebola memang belum pernah tuntas di Kongo, terutama di kawasan timurnya. Di sana 2.243 orang sudah meninggal akibat Ebola sejak Agustus 2018 lalu.

Otoritas Kesehatan Kongo mengkonfirmasi, dalam minggu ini sudah lima kematian terjadi akibat Ebola dan salah satunya gadis berusia 15 tahun.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kasus Ebola mengingatkan semua orang bahwa COVID-19 bukan satu-satunya tantangan kesehatan yang dihadapi di muka bumi.

Ada tambahan empat warga Kongo lagi yang dirawat termasuk seorang anak. Pasien yang dirawat memiliki riwayat kontak dengan korban meninggal. Mereka dirawat di unit isolasi di RS Wangata di Mbandaka.

Korban meninggal Ebola terjadi pada 18 Mei 2020. Negara namun baru bisa memastikan kematian adalah akibat Ebola pada akhir pekan ini, menurut Menkes Kongo Dr Eteni Longondo.

Ebola pertama kali muncul di Kongo pada tahun 1976. Di Provinsi Mbandaka Ebola tercatat sudah terjadi selama 11 kali sejak 1976. Dua tahun lalu Ebola membunuh 33 orang sebelum akhirnya wabah tersebut berhasil dikendalikan dalam hitungan bulan.

Sementara itu, di bagian Timur Kongo, pejabat kesehatan sedang menunggu pengumuman resmi wabah Ebola berakhir setelah terjadi selama dua tahun. Pasien terakhir di sana keluar dari rumah sakit pertengahan Mei, tapi Kongo masih harus menunggu selama satu bulan sebelum ada kepastian tentang kondisi Ebola di negaranya, dilansir dari AP.

Sementara, Kongo juga masih berperang dengan pandemi Covid-19. Setidaknya virus Covid-19 masih terdeteksi ada di tujuh dari 25 provinsi di Kongo.

Lebih dari 3.000 kasus yang dikonfirmasi dan 72 kematian telah dicatat. Namun, seperti banyak negara Afrika, pengujiannya sangat terbatas dan dikhawatirkan jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.

Virus Ebola sebelumnya diketahui hidup di kelelawar. Kasus baru Ebola di Kongo dikuatirkan menyebabkan perpecahan kasus-kasus baru.

Sepanjang tahun 2014-2016, negara Afrika Barat seperti Liberia, Sierra Leone, dan Guinea juga terdampak berat Ebola. Selama itu 280 ribu orang terinfeksi dan lebih dar 11 ribu orang meninggal akibatnya.

Ancaman tak hanya datang dari COVID-19 dan Ebola. Campak pun telah membunuh lebih banyak orang Kongo daripada gabungan penyakit-penyakit itu. WHO mengatakan sudah ada 369.520 kasus campak dan 6.779 kematian sejak 2019.  

"Ancaman empat kali lipat ini dapat terbukti mematikan bagi jutaan anak dan keluarga mereka," kata direktur nasional di Kongo untuk organisasi bantuan World Vision, Anne-Marie Connor.

Tahun lalu WHO lewat Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kurangnya dana bagi penanganan Ebola menyebabkan masalah kesehatan ini tak pernah tuntas di Kongo. Ia menekankan, kurangnya dana sehari-hari untuk kesiapan memerangi epidemi serius ini, sebelum menjadi ancaman regional atau internasional.

Berbicara soal pendanaan untuk respons terhadap wabah Ebola, ia mengatakan, masalah utamanya adalah menahan diri dari memberikan dana hingga pada akhirnya ada ketakutan dan kepanikan. 

"Sikap itu harus berubah. Kita seharusnya tidak mendanai dalam jumlah besar ketika kita panik, tetapi harus mendanai untuk menghindari kepanikan," ujarnya.

Dilansir Times Now News, virus Ebola adalah penyakit langka, namun mematikan. Ketika memasuki tubuh manusia, virus Ebola akan menyerang sel-sel tertentu, seperti sistem kekebalan dan hati. Ia akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan pendarahan hebat di dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kerusakan hampir di setiap organ.

Virus Ebola diduga berasal dari kelelawar yang kemudian menyebar pada hewan lain yang memiliki sistem imun yang lemah. Virus ini menyebar melalui kontak dengan kulit atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi.

Virus Ebola juga dapat menyebar dari manusia ke manusia termasuk jika berkontak dengan mayat yang sebelumnya terinfeksi Ebola. Virus ini juga terdeteksi pada sperma dari orang yang telah dinyatakan pulih dari Ebola.

Ini menunjukkan bahwa virus dapat tetap berada dalam cairan tubuh tertentu seperti sperma meskipun pasien tidak lagi memiliki gejala. Namun, tidak ada bukti bahwa virus dapat ditularkan melalui hubungan seks atau kontak lain dengan cairan vagina dari seorang perempuan yang menderita penyakit tersebut.

Ketika terinfeksi virus Ebola, orang akan merasakan gejala demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit perut, sakit tenggorokan, ruam kulit, merasa lemah dan lesu, muntah, dan kurang nafsu makan. Dalam beberapa kasus, virus ini juga dapat menyebabkan pendarahan pada mata, telinga, hidung, di dalam tubuh, diare berdarah, dan batuk berdarah.

Pengobatan virus Ebola secara spesifik belum ditemukan. Sementara ini, pasien hanya disokong dengan serum percobaan untuk membantu menghancurkan sel yang terinfeksi. Upaya itu juga dibarengi dengan perawatan dasar seperti pemberian oksigen, obat tekanan darah, cairan dan elektrolit, dan infus darah.

Cara terbaik untuk mencegah terinfeksi penyakit ini adalah dengan menghindari bepergian ke daerah yang terjangkit wabah Ebola. 

Petugas kesehatan dan petugas pemakaman dapat menguburkan jenazah pasien Ebola dengan mematuhi prosedur pengendalian infeksi, seperti mengenakan pakaian pelindung, seperti sarung tangan, masker, serta pakaian panjang dan pelindung mata. Mereka yang terinfeksi harus isolasi agar tidak melakukan kontak dengan orang lain.