Demonstrasi menuntut keadilan atas kematian George Floyd, pria kulit hitam berusia 46 tahun terus meluas hingga ke Gedung Putih. Jumat malam (29/05/2020) waktu setempat, para pengunjuk rasa melakukan aksi demonstrasi di luar Gedung Putih dan meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusut kematian George Floyd. 

Berdasarkan laporan NYT, di tengah naksi warga AS, Donald Trump beserta istri, Melania Trump dan sang anak Baron Trump bersembunyi di bunker Gedung Putih. Tindakan 'lari dari kenyataan' yang dilakukan Donald Trump dan keluarga tersebut merupakan keputusan dari Secret Service untuk menjamin keselamatan presiden dan keluarga.

Kabar bahwa Donald Trump yang bersembunyi di bungker Gedung Putih menuai banyak kritik pedas dari masyarakat, terutama setelah Donald Trump membual tentang para pembela dan mengejek para pengunjuk rasa pada beberapa tweet pada hari Sabtu lalu. 

Sontak saja, kabar Donald Trump yang bersembunyi di bungker Gedung Putih menuai banyak kritik pedas dari masyarakat, terutama setelah Donald Trump membual tentang para pembela dan mengejek para pengunjuk rasa pada beberapa tweet pada hari Sabtu lalu. 

"Kerja yang bagus semalam dilakukan oleh A. SecretService A.S. di Gedung Putih. Mereka tidak hanya benar-benar profesional, tetapi juga sangat keren. Saya ada di dalam, mengawasi setiap gerakan dan tidak bisa merasa lebih aman.  Merekamembiarkan 'pengunjuk rasa' menjerit & berteriak sebanyak yang mereka inginkan, tetapi setiap kali seseorang," tulis Trump pada Sabtu, (30/05/2020).

Banyak pengguna Twitter menuduh Trump 'bersembunyi' dari warga AS yang seharusnya ia pimpin melalui masa krisis. Mereka juga menuduhnya menolak mengakui kemarahan yang memicu protes besar-besaran di seluruh Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir atas kematian Floyd, pria kulit hitam yang terbunuh oleh polisi.

"Negara ini benar-benar berantakan dan 'pemimpin' kami tidak dapat ditemukan di manapun," tweet seorang pengguna.

Pengguna lain menyebut Trump sebagai 'pengecut' dan 'bunker boy' - salah satu dari beberapa nama panggilan terkait bunker yang ramai di Twitter Senin, bersama dengan tagar 'Bunker Don' dan 'Bunker Trump.'

Banyak orang berbagi gambar Gedung Putih yang semua penerangan di gedung tersebut mati pada hari Minggu malam setelah aksi protes berlangsung di akhir pekan di Washington, D.C.

Para kritikus berpendapat bahwa foto itu adalah simbol tanggapan Donald Trump terhadap kebrutalan polisi terhadap orang Afrika-Amerika.

"Mematikan lampu dan bersembunyi di ruang bawah tanah berfungsi ketika Anda ingin mengabaikan Trick atau Treaters. Ini tidak akan berfungsi sekarang. # Protests2020 #BlackLivesMatter #GeorgeFloyd #BeakerFloyd #GeorgeFloyd https://twitter.com/markknoller/status/1267291138655956992  …, "tulis seorang netizen. 

Beberapa orang kembali mengunggah ulang tweet DOnald Trump pada 2014 lalu yang mengkritik kepemimpinan Presiden Barack Obama saat itu.

"Ini hampir seperti Amerika Serikat tidak memiliki Presiden. Kami adalah kapal tanpa kemudi menuju bencana besar. Semoga beruntung semuanya!" tulis Donald Trump dalam tweet lama.  

Tidak sedikit netizen yang mendorong teori konspirasi tentang pengunjuk rasa yang diklaim Donald Trump tidak sah. Hal ini merujuk pada omomgan Trump pada akhir pekan lalu yang menyebut para pemrotes dijalankan oleh Antifa itu sebagai organisasi teroris.

"Ini adalah 'Grup Terorganisir' yang tidak ada hubungannya dengan George Floyd," ujar Donald Trump di unggahannya di Twitter.  

Washington Post melaporkan, Minggu malam waktu setempat terjadi protes di lusar Gedung Putih yang berujung pada kekerasan. Beberapa orang kemudian melakukan aksi pembakaran dan melemparkan batu. Akibat aksi tersebut tujuh belas orang ditangkap selama protes pada hari Minggu dan kebanyakan dari mereka adalah penduduk setempat.

Ribuan orang telah ditangkap di seluruh AS Serikat setelah beberapa hari protes yang dibarengi dengan kasus penjarahan, perusakan, pembobolan, dan pembakaran mobil polisi.

Aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah di AS selama sepekan ini merupakan buntut dari kematian George Floyd, Senin, (25/05/2020). George Floyd meninggal setelah Derek Chauvin, petugas kepolisian Minesotta menekan leher George Floyd dengan lututnya. Hingga beberapa menit kemudian George Floyd perlahan berhenti berbicara dan bergerak.