Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan akan memasukkan kelompok Antifa ke dalam daftar kelompok teroris.

Itu dilakukan terkait aksi rusuh hingga penjarahan yang mendompleng protes solidaritas atas kematian warga kulit hitam AS, Geogre Floyd di Minneapolis, Minnesota pada awal pekan lalu.

"Amerika Serikat akan memasukkan ANTIFA sebagai Organisasi Teroris," demikian kicauan Trump di akun Twitter-nya.

Dalam rangkaian kicauannya tersebut, Trump memberikan pujian terhadap pasukan Garda Nasional yang berhasil mengembalikan keamanan di Minneapolis pada Sabtu (30/05/2020) lalu.

Ia pun menyindir pemimpin kota tersebut, yang kebetulan berada di lain kubu partai politik, terlambat mengantisipasi aksi rusuh.



"ANTIFA yang memimpin anarkisme, di antara lainnya, telah dimatikan dengan cepat. Yang seharusnya mampu diselesaikn Wali Kota pada malam pertama dan tak menjadi masalah lagi," kicau Trump.

Sebelumnya, Frey telah menyerukan agar keempat polisi yang menyebabkan tewasnya Floyd agar dipecat dengan segera karena hal itu sangat tepat untuk dilakukan.

Ia sendiri juga meminta agar keempat polisi tersebut agar ditangkap dan diadili karena telah mengakibatkan Floyd tewas. 

"Saya mempercayai apa yang saya lihat, dan apa yang saya lihat itu salah dalam semua tingkat," ujar Frey sambil mengisak tangis.

Belakangan, kicau Trump yang menggolongkan Antifa sebagai sebuah organisasi teroris, sontak membuat warganet penasaran.

Antifa yang disebut Trump merupakan kependekan dari `anti-fasis`, sebuah kelompok aktivis radikal yang berkembang dalam beberapa tahun terahir.



Di AS, kelompok ini mulai menggeliat sejak demonstrasi rasialisme di Charlottesville, Virginia, pada 2017 silam. Namun menurut BBC, kelompok ini telah melawan fasisme sejak 1920 dan 1930-an di Eropa. 

Kelompok Antifa di setiap aksi selalu memakai pakaian hitam-hitam, memakai masker atau helm untuk menutupi identitas mereka. Meski tidak memiliki struktur terpadu atau kepemimpinan nasional, mereka selalu terlihat terorganisir dan rapih di lapangan. 



Kelompok yang ikut berpartisipasi dalam unjuk rasa di AS yang mengecam tewasnya warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi, telah disebut oleh Trump mendalangi kekerasan dan vandalisme.

Ia melabeli kelompok tersebut sebagai ekstremis sayap kiri yang telah membajak aksi damai warga menuntut keadilan atas kematian Floyd hingga menjadi kerusuhan yang kini terjadi di seluruh negeri.

Antifa modern, seperti diulas di buku `Antifa: The Anti-Fascist Handbook` muncul pada 1980-an untuk menentang kelompok neo-Nazi di Barat.

Mereka juga disebut kerap menggunakan kekerasan untuk melawan kelompok rasis dan fasis terhadap masyarakat, serta identik dengan pemakaian bom molotov, batu, atau tongkat.

Dalam aksi protesnya, tidak jarang kelompok itu merusak pertokoan, mobil polisi, fasilitas publik, dan menyasar gedung pemerintahan.

Kekerasan dan perusakan itu diyakini Antifa bukanlah suatu hal yang salah, melainkan beralasan sebagai sebuah bentuk pertahanan diri. Metode kekerasannya itu telah menuai banyak kecaman, baik dari publik maupun pemerintah.