PT Krakatau Steel (Persero) Tbk akhirnya mampu mencetak laba bersih mencapai US$ 74,1 juta atau setara Rp 1,07 triliun (kurs Rp 14.500) pada kuartal I-2020. Tercatat, capaian laba ini adalah yang pertama dalam 8 tahun terakhir. Kebangkitan Krakatau Steel ini menjadi kabar baik bagi Menteri BUMN Erick Thohir.

Menurut Erick, salah satu kunci kesuksesan itu terletak pada restrukturisasi dan efisiensi BUMN yang terus dilakukan meski ada pandemi corona.

"Kemarin pada kesempatan bersamaan kita minta restrukturisasi besar-besaran atas kinerja BUMN, tidak hanya cashflow tapi juga efisiensi dan konsolidasi harus terjadi," ujar Erick dalam sebuah diskusi online, Jumat (29/5/2020).

Hal itu terjadi pada sejumlah BUMN seperti PTPN dan Krakatau Steel. Dia menuturkan, restrukturisasi ini memberikan dampak pada kinerja Krakatau Steel yang akhirnya mencetak laba.

"Seperti di PTPN bagaimana kita efisiensi dan terus hari ini, kemarin ada kabar baik seperti Krakatau Steel yang hasil restrukturisasi ternyata sudah mulai profitable," ujarnya.

"Ini mesti kita jaga karena COVID-19 cukup lama," imbuh Erick.

Sebagai informasi, perbaikan kinerja Krakatau Steel di kuartal I-2020 terutama disebabkan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8% dan penurunan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5%.

"Perseroan juga telah melakukan beberapa langkah perbaikan bisnis yang telah dilakukan sejak tahun 2019 dan hasilnya mulai terlihat di triwulan I-2020 ini," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dalam keterangannya.

"Beberapa upaya yang telah dilakukan perseroan untuk memperbaiki kinerja antara lain melalui program restrukturisasi dan transformasi. Salah satu hasil positif yang dicapai perseroan adalah penurunan biaya operasi (operating expenses) induk turun 31% menjadi US$ 46,8 juta dibandingkan periode yang sama di tahun 2019," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dalam keterangannya, Jumat (29/5/2020) mengatakan, perbaikan kinerja perseroan di kuartal I-2020 terutama disebabkan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8% dan penurunan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5%.

"Beberapa upaya yang telah dilakukan perseroan untuk memperbaiki kinerja antara lain melalui program restrukturisasi dan transformasi. Salah satu hasil positif yang dicapai perseroan adalah penurunan biaya operasi (operating expenses) induk turun 31% menjadi US$ 46,8 juta dibandingkan periode yang sama di tahun 2019," ujar Silmy.

"Atas upaya-upaya efisiensi, Krakatau Steel telah berhasil melakukan penghematan biaya sebesar US$ 130 juta pada triwulan I-2020. Meskipun demikian, kondisi di triwulan II-2020 diperkirakan berbeda karena kondisi pasar baja yang melemah sampai sekitar 50% akibat dari kondisi ekonomi Indonesia yang sedang mengalami tekanan akibat pandemi COVID-19. Melemahnya perekonomian nasional telah berdampak pada industri baja. Hal ini jika berlanjut terus menerus maka diperkirakan akan berdampak pada kinerja di tahun 2020," paparnya.

Silmy menambahkan, akibat dari dampak COVID-19, besar kemungkinan jika keadaan ini berlarut-larut dan kita tidak melakukan langkah-langkah antisipasi maka industri hilir dan industri pengguna akan menutup lini produksinya karena rendahnya utilisasi. 

Hal ini sangat berisiko karena karakteristik industri memerlukan waktu untuk melakukan proses start-up produksi dan kondisi tersebut akan menimbulkan celah masuknya produk impor yang dapat menimbulkan defisit neraca perdagangan nasional.

Apabila industri sempat mati, maka akan sulit untuk dihidupkan kembali karena dibutuhkan usaha ekstra dan bisa memakan waktu lama serta biaya lebih besar untuk memulihkannya. Kondisi ini akan lebih parah lagi jika pasar dalam negeri sudah terlanjur diisi oleh produk impor.

"Kita berharap kondisi perekonomian di triwulan III dan triwulan IV akan membaik, sehingga Krakatau Steel dapat kembali meraih keuntungan seperti halnya di triwulan I 2020 dan tahun ini Krakatau Steel dapat membukukan laba seperti yang direncanakan pasca selesainya restrukturisasi Krakatau Steel," tutupnya.