Ada fakta baru terkait penanganan wabah virus Corona. Ternyata, kinerja Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini paling tertinggal.

Tim Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur mengakui tingkat recovery rate di Kota Surabaya paling rendah se-Indonesia yakni hanya sebesar 8,8 persen.



Karenanya, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, dr. Joni Wahyuhadi meminta masyarakat untuk bisa memahami beban berat yang dipikul para tenaga kesehatan (nakes) saat ini.

"Jadi kalau di hulu masih mengalir deras, saya sudah tidak tahu lagi. Ini tentunya berbahaya juga buat nakes, dan kita tidak akan pernah mampu. Tolong kasihani nakes kami," katanya dalam konferensi pers, Kamis (28/5/2020) malam.

Dia memaparkan tingkat recovery rate per 27 Mei 2020, tertinggi ada di Kota Semarang yakni 64,1 persen, disusul Makssar 48,8 persen, Tangerang 46,4 persen, Jakarta Selatan 36,5 persen, Bekasi 34,9 persen, Meda 29,6 persen dan Jakarta Barat 29,5 persen.

"Recovery rate tertinggi Semarang dan Surabaya terendah. Kita harus bergerak seperti Semarang, nakes yang bekerja pun harus diikuti kedisiplinan yang kuat. Data recovery ini pun mudah-mudahan membuka mata masyarakat bahwa vaksin belum ditemukan," jelasnya.

Adapun hingga 28 Mei 2020, total kasus positif di Jatim sudah mencapai 4.271 orang, jumlah itu bertambah 159 orang dari hari sebelumnya. Dari total kasus tersebut, sebanyak 570 orang telah sembuh, 348 orang telah meninggal dunia.

Dari total kasus positif Covid-19 di Jatim, sebanyak 71,81 persen didominasi oleh Surabaya Raya dengan rincian Surabaya 54,09 persen, Sidoarjo 14,11 persen dan Gresik 3,67 persen. Sedangkan di Malang Raya hanya menyumbang kasus 3,01 persen.