Sentimen Jumat keramat bagi pasar valuta global nampaknya segera hadir dalam sesi perdagangan penutupan pekan ini, Jumat (29/5). Adalah sentimen dari kemungkinan semakin memanasnya tensi Washington dengan China terkait dengan persoalan Hong Kong.

Laporan sebelumnya menyebutkan, pihak parlemen China yang telah meloloskan perundangan keamanan baru bagi wilayah otonom bekas koloni Inggris itu kemarin, Kamis (28/5).

Dengan lolosnya perundangan tersebut, wilayah Hong Kong diyakini akan tidak lagi menjadi salah satu pusat keuangan dunia yang berpengaruh.  Sebagai respon atas proses di Beijing tersebut, pemerintahan Gedung Putih di bawah Presiden Donald Trump bersiap mengumumkan langkah atau hukuman bagi pemerintah China atas lolosnya perundangan yang mengancam demokrasi serta hak azasi manusia di wilayah penting itu.

Persoalan genting di Asia Timur tersebut secara mengejutkan justru diwarnai dengan turunnya posisi indeks Dolar AS sebagai cermin atas melonjaknya nilai tukar mata uang utama dunia lainnya. Laporan terkini menunjukkan, mata uang Euro, Poundsterling, Dolar Australia, serta Dolar Kanada yang seragam membukukan penguatan.

Penguatan tersebut berlangsung hingga sesi perdagangan pagi ini di Asia, Jumat (29/5) dan terlihat berimbas pada posisi indeks Dolar AS yang kini bertengger di kisaran 98,5.

Situasi tersebut dengan sendirinya akan memberikan ruang bagi mata uang Rupiah untuk mampu membukukan penguatan dalam menutup pekan ini. Sekedar catatan, pada sesi perdagangan kemarin, nilai tukar Rupiah yang mampu mengikis pelemahan secara sangat signifikan untuk menutup sesi di Rp14.715 per Dolar AS atau melemah sangat tipis 0,03%.

Amarah Trump pada China kali ini, nampaknya tidak akan memberikan tekanan bagi Rupiah.