Sesi perdagangan saham akhir pekan ini, Jumat (29/5) dipastikan akan diwarnai dengan tekanan jual cukup signifikan. Adalah sentimen dari ketegangan AS-China menyangkut persoalan Hong Kong yang menjadi latar utama kekhawatiran investor.

Laporan sebelumnya menyebutkan, pihak parlemen China yang telah meloloskan perundangan keamanan baru untuk wilayah otonomi bekas koloni Inggris, Hong Kong. Lolosnya perundangan tersebut sekaligus sebagai habisnya masa demokrasi serta hak azasi manusia di wilayah yang merupakan salah satu pusat keuangan dunia yang sangat berpengaruh itu.

Sikap keras Presiden AS Donald Trump dalam menanggapi langkah China diyakini akan semakin  memanaskan tensi AS-China, dan investor mencoba mengantisipasi dengan mengambil aksi keluar dari pasar.

Sikap pesimis akhirnya sulit dihindarkan untuk menghadirkan tekanan jual hingga meruntuhkan indeks di seluruh bursa saham utama Asia.

Laporan terkini dari sesi perdagangan pagi ini menunjukkan, indeks Nikkei (Jepang) yang merosot 0,51% untuk menjejak kisaran 21.803,87, sementara indeks ASX 200 (Australia) melorot 0,41% untuk berada di 5.827,1, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menurun 0,45%  untuk menyisir posisi 2.019,48.

Dengan bekal sentimen yang kurang menguntungkan tersebut, indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa efek Indonesia yang akan membuka sesi perdagangan beberapa menit ke depan diyakini akan sulit lepas dari tekanan jual. Terlebih pada dua hari sesi perdagangan terakhir, IHSG telah membukukan lonjakan signifikan secara beruntun.

IHSG diyakini mendapatkan momentum koreksi yang sangat kuat dalam menutup sesi pekan ini.