Langkah keras dari pemerintahan komunis China yang akan memberlakukan perundangan keamanan baru bagi Hong Kong akhirnya semakin mendapatkan porsi besar perhatian investor. Kabar terkini menyebutkan, pihak parlemen China yang telah meloloskan perundangan keamanan baru bagi wilayah otonom bekas koloni Inggris itu kemarin, Kamis (28/5).

Dengan lolosnya perundangan tersebut, wilayah Hong Kong diyakini akan tidak lagi menjadi salah satu pusat keuangan dunia yang berpengaruh.  Sementara di sisi lainnya, pemerintahan Gedung Putih di bawah Presiden Donald Trump bersiap mengumumkan langkah atau hukuman bagi pemerintah China atas lolosnya perundangan yang mengancam demokrasi serta hak azasi manusia di wilayah penting itu.

Investor dengan mudah menahan diri dari aksi akumulasi lebih lanjut, bahkan untuk sebagian berbalik melakukan tekanan jual untuk menggelincirkan indeks dalam taraf moderat.  Hingga sesi perdagangan ditutup beberdapa jam lalu, indeks DJIA menurun 0,58% untuk menutup sesi di 25.400,64, sementara indeks S&P 500 terkikis 0,21% untuk berakhir  di 3.029,73, serta indeks Nasdaq yang melemah 0,46% untuk terhenti di 9.368,99.

Laporan dari jalannya sesi perdagangan juga menyebutkan, investor yang juga memberikan perhatian pada rilis data jumlah tunjangan klaim pengangguran yang disebutkan mencapai 2,1 juta pada pekan lalu.  Jumlah tersebut tercatat sedikit di atas ekspektasi pasar yang berada di kisaran 2,05 juta.

Langkah Trump yang akan segera mengumumkan hukuman bagi China beberapa jam ke depan menjadikan sikap pesimis investor bertahan hingga pagi ini di Asia, Jumat (29/5). Situasi ini sekaligus akan menjadi bekal buruk bagi sesi perdagangan saham di Indonesia, di mana indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat telah berhasil membukukan lonjakan signifikan dalam beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya secara beruntun.