Teka-teki siapa selanjutnya yang bakal menggantikan Marsekal Hadi sebagai Panglima TNI semakin sulit diprediksi setelah Presiden Jokowi melantik Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, pada 20 Mei 2020. 

Sementara saat ini, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dijabat Jenderal TNI Andhika Perkasa. Dari ketiga perwira tinggi bintang empat tersebut, siapakah yang akan dipercaya Jokowi sebagai Panglima TNI berikutnya? 

Jika dilihat dari senioritas, Jenderal Andhika lebih tua satu tahun dari Laksamana Yudo dan Marsekal Fadjar. Diketahui, Andhika merupakan lulusan Akmil 1987 sementara Yudo dan Fadjar lulus setahun berikutnya yakni pada 1988. Dengan demikian, Andhika secara tradisi di militer bisa dikatakan lebih unggul.

Akan tetapi, Andhika juga sangat berpeluang gagal meraih puncak tertinggi jabatan di militer apabila Jokowi tetap mengikuti tradisi rotasi kepemimpinan di TNI, yakni: Darat, Laut, dan Udara. Sementara saat ini, Panglima TNI dipercayakan kepada matra AU setelah Gatot Nurmantyo dari AD. Maka alur berikutnya adalah giliran AL yang bakal memimpin TNI. 

Jika tradisi ini diikuti maka Laksamana Yudo berpeluang besar menggantikan Marsekal Hadi. Di saat bersamaan, di atas kertas peluang Marsekal Fadjar menjabat Panglima TNI sangat kecil atau bahkan sudah tertutup. 

Sementara Yudo yang lebih muda setahun dari Andhika memiliki masa dinas yang lebih panjang. Masa dinasnya lebih lama setahun sembari menanti masa pensiun Marsekal Hadi pada akhir 2021. Umur yang lebih muda itulah yang kembali menguntungkan Laksamana Yudo.

Meski begitu, pergantian pucuk pimpinan TNI sangatlah kompleks, tidak hanya menyangkut tradisi rotasi dan senioritas tetapi juga membutuhkan banyak pertimbangan terutama aspek politiknya. Di sinilah kans Jenderal Andhika kembali menjadi lebih besar ketimbang Yudo. 

Presiden Jokowi bisa saja dan memang berhak untuk mengabaikan tradisi rotasi dan senioritas. Hal ini sudah pernah dilakukan Jokowi di tubuh Polri ketika menunjuk Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri. Saat itu, Tito bahkan “melompati” dua angkatan di atasnya.

Dikaitkan dengan aspek politik, maka Andhika yang tak lain adalah menantu dari mantan Kepala BIN Jenderal Hendropriyono, maka peluangnya untuk tampil sebagai Panglima TNI kini terbuka lebar. Sehingga Andhika setidaknya telah mempunyai dua modal penting yakni senioritas dan dukungan politik di lingkaran Presiden. Selama ini, Hendropriyono yang dikenal sebagai Profesor Intelijen berkontribusi besar dalam upaya mengantarkan Jokowi ke kursi Istana.

Namun menurut pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, masa jabatan yang terlalu singkat atau terlalu panjang akan berdampak kurang bagus untuk organisasi militer. Sehingga apabila Andhika diplot menjadi Panglima TNI, maka pergantian Panglima Hadi harus dilakukan sebelum memasuki usia pensiun di akhir 2021.

"Kalau ingin Andika Perkasa jadi panglima, mestinya nggak harus menunggu Hadi pensiun, baru dilakukan pergantian," kata Fahmi, belum lama ini.

Khairus menjelaskan, Andika berpeluang menjabat Panglima TNI jika pergantian pucuk pimpinan TNI dilakukan sebelum pertengahan tahun depan. Namun agar prosesi pergantian itu berjalan mulus, jalur reshuffle kabinet menjadi pilihan utamanya. Yakni dengan menunjuk Marsekal Hadi menjadi menteri di bidang yang menyangkut sektor politik, hukum, keamanan, maritim, maupun investasi.

"Bisa saja malah menjadi pemantik pergantian panglima. Jika lebih dari itu, maka di atas kertas, KSAL Yudo Margono akan lebih berpeluang (menjadi Panglima TNI)," demikian Khairul.