China akhirnya kembali menguasai panggung dalam sesi perdagangan penutupan pekan ini di Asia. Setelah sentimen tensi yang diyakini akan segera makin panas dengan Washington, langkah yang diambil pemerintahan di bawah Presiden Xi Jinping itu nampaknya membawa situasi yang sangat serius.

Adalah rencana pemerintahan negeri Komunis itu yang berniat akan memberlakukan hukum  atau peraturan keamanan yang baru untuk wilayah otonomi Hong Kong. Peraturan keamanan Hong Kong tersebut sesungguhnya ditujukan untuk menumpas secara lebih efektif pecahnya aksi protes kalangan pro-demokrasi  tahun lalu yang berlangsung berkepanjangan dan hanya terhenti oleh serangan wabah Coronavirus.

Langkah keras China ini menunjukkan sikap kukuh pemerintah yang nekat di tengah pandemi yang masih jauh dari usai. Akibatnya, pasar uang global semakin terpukul di sesi akhir pekan ini. Catatan menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang China, Yuan yang semakin melemah sebagai senjata bagi Beijing untuk menghadapi sikap keras Presiden AS Donald Trump  yang mengancam penaikkan tarif.

Merosotnya Yuan, sangat berpotensi akan menyeret mata uang Rupiah pada akhirnya, meski mungkin masih dalam taraf lebih terbatas.

Sementara dalam tinjauan teknikal menunjukkan, tren penguatan jangka menengah Rupiah yang kini semakin terancam untuk segera  menemui kejenuhan. Bila Yuan terus saja ambles, sebagaimana diinginkan China, Rupiah sangat mungkin akan terimbas untuk berbalik melemah untuk sekaligus mempercepat berakhirnya tren penguatan.

Grafik harian terkini berikut memperlihatkan, nilai tukar Rupiah yang sangat rentan untuk segera mengakhiri tren penguatan jangka menengahnya akibat sentimen dari langkah nekat China, yang tentu sedikit banyak akan menyulitkan pemerintahan Presiden  Jokowi  di Indonesia: