Sentimen positif dari lonjakan tinggi indeks Wall Street di sesi awal pekan ternyata gagal menghadirkan optimisme yang meyakinkan di sesi perdagangan Asia hari ini,  Selasa (31/3). Setelah sempat berupaya membukukan lonjakan sangat tajam di awal sesi perdagangan pagi, gerak indeks di seluruh bursa saham utama Asia terlihat beralih mengikis penguatan secara signifikan.

Sikap optimis pelaku pasar di Asia terkesan masih cenderung berhati-hati dalam menjalani sesi perdagangan kali ini hingga mebghantarkan gerak indeks yang mixed.

Masih terus menjulangnya angka kasus infeksi Coronavirus dan juga jumlah korban tewas akibat virus yang berasal dari China trrsebut, terlihat belum mampu ditepis dengan sempurna oleh optimisme yang datang dari Wall Street.  Gerak indeks akhirnya kembali mengalami tekanan jual meski dalam rentang yang enderung terbatas.

Hingga sesi perdagangan sore ditutup,  indeks Nikkei (Jepang) tercatat beralih turun 0,88% untuk berakhir di 18.917,01, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) melompat 1,32% untuk  menutup sesi di   23.482,01.

Indeks ASX 200 (Australia) yang mengawali sesi pagi dengan melambung ekstrim, akhirnya beralih runtuh 2,02% untuk menutup sesi hari ini di 5.076,8 dan  indeks KOSPI (Korea Selatan) yang melompat 2,19% untuk singgah di 1.754,64.

Bervariasinya gerak indeks di Asia tersebut kemudian menjadikan sikap ragu pada investor di bursa efek Indonesia. Setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat melakukan lonjakan tinggi di awal sesi pagi, secara perlahan lonjakan tajam tersebut terkikis secara konsisten. IHSG kemudian menutup sesi hari ini dengan melambung curam 2,81% untuk ditutup di 4.538,93.

Pola gerak  berbeda terjadi pada nilai tukar Rupiah, di mana sempat konsisten menapak zona pelemahan namun mencoba berbalik menguat kembali di penghujung sesi perdagangan sore ini. Hingga  ulasan ini disunting, Rupiah  tercatat bertengger di kisaran Rp16.327 per Dolar AS alias berbalik menguat tipis 0,06%.