Praktek kongkalikong diduga kuat terjadi dalam pengerjaan proyek pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Tanjung Nyato Tahap 2. Proyek yang berada di Desa Petaling, Kecamatan Selat Nasik Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan anggaran Rp 26.967.000.000 ini dikerjakan PT LKS, sebuah perusahaan asal Palembang, Sumatera Selatan.

Sayangnya, berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat, LKS diduga kuat telah melakukan kecurangan pekerjaan penyusunan batu keliling tanpa menggunakan kayu cerucuk dalam pengerjaan penyusunan batu tersebut. 

Ironisnya lagi, kayu cerucuk untuk dasar pondasi susunan batu tersebut yang sebelumnya dibeli dari masyarakat ternyata tidak dipasang tetapi justru diangkut ke Palembang menggunakan tongkang.

Temuan lain adalah terkait pembuangan pasir laut yang diambil dari laut. Pengerjaan penyedotan pasir laut itu sendiri sudah berlangsung selama kurang lebih 1 bulan, dan sudah menghasilkan pasir laut yang cukup banyak. Namun, berdasarkan informasi masyarakat, pasir laut yang telah disedot itu kemudian dibuang kembali ke laut, lebih tepatnya ke pesisir dekat pelabuhan tersebut.

Temuan-temuan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan di masyarakat, apakah LKS telah mengerjakan proyek sesuai RAP atau belum. masyarakat berharap penegak hukum pro aktif merespon informasi dari masyarakat untuk melakukan penyelidikan, dengan mendahulukan azas praduga tak bersalah.

Diketahui, pembangunan pelabuhan di Bangka dan Belitung sangat dibutuhkan guna mempermudah keluar masuknya akses barang dan penumpang. Untuk itu, pemerintah kemudian membangun 3 pelabuhan baru di Pulau Bangka dan Belitung. Yakni, pelabuhan di Tanjung Ular Bangka Barat, Tanjung Nyato Pulau Mindanau Belitung dan Tanjung Berikat Bangka Selatan.

Saat ini, baru ada 5 pelabuhan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan penambahan ketiga pelabuha itu maka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung nantinya akan memiliki sebanyak 8 pelabuhan.