Sesi perdagangan awal pekan ini di pasar komoditras penting dan strategis dunia, minyak, kembali diwarnai dengan gerak runtuh tajam. Laporan terkini menyebutkan, di tengah sentimen upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump  dalam menggalang kerja sama dengan sejumlah negara produsen minyak terbesar dunia, Rusia dan Arab Saudi, pelaku pasar masih berkukuh menggeklar tekanan jual panik.

Laporan terkini menunjukkan, dalam sesi perdagangan Senin (30/3) yang baru berakhir beberapa jam lalu itu, harga minyak jenis WTI yang longsor curam 6,6% untuk berakhir di kisaran $20,09 per barel.  Catatan juga menunjukkan, harga minyak yang sempat  runtuh hingga menembus di bawah level psikologisnya di $20 per barel secara temporer.

Laporan  yang beredar di kalangan pelaku pasar menyebutkan, sentimen dari sejumlah analisis terkini yang menjadi latar dari keruntuhan harga minyak kali ini. Serangkaian hasil riset menunjukkan, permintaan minyak dunia yang diyakini akan runtuh hingga 16 juta barel per hari di sepanjang bulan April depan.

Keruntuhan ekstrim tersebut terutama dikontribusi oleh serangkaian langkah pemerintahan di negara-negara dengan perekonomian besar dunia yang sedang membatasi aktivitas perekonomian guna membatasi persebaran wabah Coronavirus yang hingga kini masih mengganas.

Laporan terkait juga menyebutkan, Presiden Trump yang telah melakukan pembuicaraan melalui telepon  dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengatasi masalah rontoknya harga minyak dunia. Sementara Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan pimpinan Arab Saudi.

Namun serangkaian upaya pemerintahan Trump terserbut terlihat masih belum bertaji untuk menghentikan tekanan jual di pasar minyak.