Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron menilai PT. Barata Indonesia (Persero) sebagai salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang manufaktur dan konstruksi memiliki peluang yang besar terhadap prospek pengadaan alat-alat pertanian yang saat ini masih dikuasi oleh alat-alat pertanian dari impor. Apalagi, PT. Barata Indonesia mempunyai pengalaman untuk membuat atau memproduksi traktor.

“Kan mayoritas traktor kita saat ini dikuasai oleh Kubota dan Yanmar. Oleh karenanya kalau kemudian PT. Barata Indonesia mampu untuk memproduksi, apalagi (alat-alat pertanian) dikembangkan dengan mesin, ke depan ini menjadi prospek baru,” ungkap Herman usai pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VI DPR RI dengan jajaran direksi PT. Barata Indonesia di Surabaya, Jawa Timur.

“Bagaimana hubungannya dengan ketersediaan anggaran di sektor pertanian, ini bisa didudukkan bersama antara Kementerian Pertanian dan BUMN yang bisa memproduksi mesin-mesin pertanian. Dulu saya di Komisi IV, setiap tahunnya menganggarkan Rp 23 triliun untuk menunjang peningkatan produksi di sektor pertanian diberbagai komoditas. Apakah itu pangan, hortikultura, perkebunan dan lain sebagainya,” ungkap Herman.

Lebih lanjut, politisi Partai Demokrat itu menganalisa, PT. Barata Indonesia kurang menangkap prospek-prospek yang ada. Jika dilihat pertumbuhannya baru naik setelah mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN). “Kemudian 2018-2019 landai lagi. Ini bahaya kalau kemudian kita tidak dorong utnuk mendapatkan prospek baru, untuk mendorong pertumbuhan korporasi dengan market-nya yang lebih luas ini juga bahaya,” ujar Herman.

“Oleh karena itu, karena memiliki kemampuan di bidang itu, jangan mikirnya yang besar-besar saja. Project tadi memikirkan bagaimana membangun pabrik gula, membangun pabrik penggilingan. Itu oke, tapi yang lebih penting justru sektor-sektor yang sekarang ini menjadi captive market di bidang pertanian, di bidang sarana prasarana pertanian,” ujar mantan Pimpinan Komisi IV DPR RI periode 2014-2019 itu.

Legislator dapil Jawa Barat VIII itu menambahkan, rencana strategis baru PT. Barata Indonesia yaitu untuk membangun alat pengering. Jika bisa dibangun dengan murah, dapat membangun traktor dengan murah, dapat membangun mesin pompa air dengan murah, dengan kapasitas yang lebih besar. Kemudian dapat membangun sarana prasarana pertanian lainnya dengan competitive price ataupun dengan harga yang lebih kompetitif dan tentu karena ini produksi dalam negeri bisa lebih murah.

“Saya kira, selain dapat memberikan kelonggaran, dapat memberikan keekonomisan kepada para petani juga dapat mendorong pertumbuhan produksi dan pertumbuhan laba PT. Barata Indonesia. Oleh karena itu saya akan dorong terus, bukan hanya sinergi BUMN tetapi sinergi antar Kementerian supaya sektor-sektor yang dibangun oleh Kementerian kembali untuk juga meningkatkan produksi dalam negeri dengan tidak mengabaikan sektor-sektor swasta sebagai mitra mitra strategisnya,” ujarnya.