Nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terus menjadi pembicaraan terkait kandidat Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru. Mantan wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno punya penilaian tersendiri.

Menurut Sandi, pemerintah perlu mengevaluasi kinerja Ahok di Pertamina terlebih dulu. Pasalnya, jabatan Komisaris Utama Pertamina yang diemban Ahok saat ini, menurut Sandi sangat penting bagi negara.

“Cek dulu nih bagaimana hasil rekam jejaknya setiap bulan di Pertamina,” kata Sandi di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (7/3).

Sebab, lanjutnya, perlu ada pembenahan di sektor minyak dan gas (migas). Beberapa hal yang harus dilakukan seperti menghapus mafia migas, meningkatkan transparansi dan produksi, serta mengurangi impor guna meminimalkan defisit perdagangan.

Evaluasi seperti itu menurutnya lebih relevan untuk dilakukan pemerintah. “Daripada hanya membicarakan posisi-posisi yang terus-menerus berganti tanpa kembali pada esensi berbangsa bernegara, kita punya tugas utama," katanya.

Meski begitu, masuknya Ahok dalam kandidat Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru merupakan hak prerogatif Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Saya tidak ada komentar lah," kata Sandi.

Hal berbeda disampaikan oleh Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri. Ia mendukung langkah Presiden Jokowi menunjuk Ahok sebagai Kepala Otorita Ibu Kota Baru.

Alasannya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinilai telah terbukti memimpin ibu kota. "Saya dukung 110%. Dia (Ahok) telah terbukti untuk mengawal Jakarta jauh lebih baik, ya intinya dia sudah teruji," kata Faisal pada kesempatan yang berbeda, Jumat (6/3) lalu.

Jokowi memang telah mengantongi empat nama kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Baru, salah satunya Ahok. Selain itu, ada nama Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Ada pula nama Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana.

“Keempat ada Pak Azwar Anas (Bupati Banyuwangi),” kata Jokowi, beberapa waktu lalu. Kandidat yang terpilih akan memimpin proses pemindahan ibu kota baru dari Jakarta ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.