Presiden Joko Widodo ingin para menteri bekerja cepat sesuai target yang ditetapkan. Presiden tak segan mencopot mereka yang lamban beradaptasi. Kinerja Menpar Wishnutama langsung kena sentil Jokowi di rapat kabinet.

"Ada yang cepat beradaptasi, ada yang tidak. Mohon sedikit dimaafkan dulu, kalau terus (tidak dapat beradaptasi), pasti saya ganti," kata Jokowi seperti disampaikan juru bicara Presiden Fadjroel Rachman, Minggu, (23/2/2020).

Menurut Fadjroel, Presiden fokus pada program kerja dan pelaksanannya. Sehingga pekerjaan para menteri pasti dipantau.

Jokowi, kata Fadjroel, memaklumi adanya penyesuaian. Namun Presiden ingin hal itu dilakukan dengan cepat.

Sebelumnya, Fadjroel merespons isu reshuffle kabinet. Menurut dia, tak perombakan dalam waktu dekat.

"Tidak ada rencana reshuffle," tegas Fadjroel saat dikonfirmasi, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Februari 2020.

Presiden meminta seluruh menteri fokus melaksanakan program kerja. Mereka diminta tak menghiraukan isu reshuffle.

"Presiden memonitor serta mengevaluasi pelaksanaan rencana kerja masing-masing," pungkas Fadjroel.

Presiden Joko Widodo melantik 34 menteri Kabinet Indonesia Maju pada Rabu, 23 Oktober 2019. Namun isu reshuffle berhembus di media sosial, tepat empat bulan setelah pelantikan.
 
Dalam perbincangan di media sosial, perombakan kabinet menyasar menteri dengan kinerja buruk. Tapi belum ada rincian detail terkait ini.

Sentil Kinerja Menpar

Sektor pariwisata kembali disorot. Dalam rapat terbatas, Presiden Jokowi menyentik kinerja Menteri Pariwisata Wishnutama Kusubandio. Pasalnya, pariwisata Indonesia masih kalah bersaing dengan tiga negara tetangga: Singapura, Malaysia dan Thailand. 

“Kalau dibandingkan dengan negara tetangga kita, misalnya Singapura berada di peringkat 17, Malaysia 29, dan Thailand 31. Ini menjadi catatan kita ke depan dalam rangka memperbaiki dari 4 sub index dan 14 pilar yang menjadi tolak ukur index daya saing pariwisata dunia,” kata Jokowi saat memimpin Rapat Terbatas tentang Peningkatan Peringkat Pariwisata Indonesia di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. 

Turut hadir dalam rapat ini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio hingga Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. 

Jokowi mengungkapkan, peringkat daya saing pariwisata Indonesia dalam Travel and Tourism Competitiveness Index, dari tahun ke tahun semakin baik. Terlihat pada 2015, peringkat daya saing pariwisata Indonesia berada di peringkat 50. 

Kemudian, dua tahun berikutnya di 2017, naik ke peringkat 42. Untuk tahun 2019, peringkat kembali naik meski hanya sedikit, peringkat 40. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menambahkan, pariwisata Indonesia memiliki lima keunggulan dibanding negara lain. 

Yakni, berkaitan dengan daya saing harga, prioritas kebijakan, daya tarik alam, keterbukaan, serta daya tarik budaya dan kunjungan bisnis. Namun, sektor pariwisata Indonesia masih lemah di lima pilar lainnya. 

Yaitu, bidang lingkungan yang berkelanjutan, kesehatan dan kebersihan, infrastruktur pariwisata yang masih dalam pembenahan terus, keamanan, lalu teknologi informasi. 

“Saya kira catatan-catatan ini harus kita jadikan perhatian dalam bekerja ke depan, dengan target-target yang terukur dan jelas,” tegasnya. 

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari mengatakan, pemerintah seharusnya membenahi terlebih dahulu destinasi wisatanya, sebelum dipasarkan ke dunia luar. 

“Formula pengembangan destinasi wisata super prioritas dengan pendekatan storynomics tourism yang dilakukan pemerintah, bukan metode yang tepat untuk menarik wisatawan,” kritik Azril. 

Azril membandingkan pariwisata di Singapura dan Thailand yang dianggap jauh lebih baik karena dari segi informasi pelayanan destinasi wisata, sudah ada dan sangat memadai. Bahkan sejak saat wisatawan tiba di bandara. 

Sekadar informasi, sepanjang tahun 2019, jumlah kunjungan turis mancanegara ke Indonesia tercatat 16,1 juta orang. Jumlah tersebut naik sekitar 1 juta dari tahun sebelumnya, yakni sekitar 15,8 juta.