Setelah sentimen dari penyegelan kesepakatan dagang tahap pertama AS-Chna memuncak dengan hanya meninggalkan kleraguan pada investor, gerak nilai tukar mata uang Rupiah terlihat masih berupaya untuk bertahan di level terkuatnya.

Laporan dari sesi perdagangan akhir pekan  kemarin, Jumat (17/1)  memperlihatkan, Rupiah yang terhenti di kisaran Rp13.644 per Dolar AS atau melemah sangat tipis dibanding posisi penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya.

Gerak melemah yang sangat tipis tersebut setidaknya mencerminkan dua situasi penting, pertama adalah masih kukuhnya sikap investor untuk bertahan optimis di tengah keraguan sentimen tersegelnya kesepakatan dagang AS-China.

Kedua, energi bagi Rupiah untuk melanjutkan gerak menguat terlihat mulai terbatas, dan mungkin saja mendekati akhir. Namun secara keseluruhan, mampunya Rupiah untuk mengandangkan Dolar AS jauh di bawah level psikologisnya di Rp14.000 dalam jangka waktu yang cukup lama secara teknikal cukup mengejutkan.

Oleh karenanya, seiring dengan jatuhnya momentum sentimen mulai diragukannya kesepakatan dagang AS-China, membuat Rupiah sangatlah rentan untuk segera berbalik melemah dalam beberapa hari dan bahkan pekan sesi perdagangan ke depan.

Rupiah secara teknikal memang masih berpeluang untuk menundukkan Dolar AS di kisaran Rp13.500-an, namun diyakini akan sulit untuk bertahan lama bila hal tersebut terjadi.  Hal ini mengingat faktor mulai lelahnya sentimen kesepakatan dagang yang diinisiasi oleh Trump mendapatkan sokongan dari pola teknikal yang tersedia.