INDONESIA berhasil mengembangkan sel punca untuk mengobati berbagai macam penyakit yang sulit disembuhkan. Hasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bersama Kimia Farma membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan menyetujui pembangunan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional.

Bidang Kedokteran diIndonesia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Perbaikan dan inovasi berbagai produk bidang kedokteran membawa nama Indonesia menjadi pusat perhatian dunia. Satu di antaranya karena Indonesia berhasil mengembangkan stem cell atau sel punca, di mana negara lain masih dalam tahap riset dan belum resmi diberikan kepada pasien.

Sel punca merupakan sumber sel-sel baru yang menciptakan berbagai jenis sel. Sel ini mampu berubah menjadi berbagai jenis sel matang yang khas (differentiate), mampu beregenerasi sendiri (self-regeneration), dan pada dasarnya merupakan blok pembangun (building block) pada tubuh manusia.

Penelitian tentang sel punca di Indonesia telah memasuki babak baru setelah Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional diresmikan. FKUI dan RSCM bersama Kimia Farma menjadi promotor terbentuknya pusat produksi ini.

Sejak 2008, Unit Pelayanan Terpadu Teknologi Kedokteran (UPTTK) Sel Punca FKUI dan RSCM sudah melakukan penelitian tentang sel punca. Penelitian ini melibatkan 30 dokter subspesialis dari berbagai keilmuan.

Laboratorium UPTTK memiliki berbagai tugas di dalamnya seperti laboratorium produksi berstandar current good manufacturing practice (CGMP), laboratorium analisis, dan banking atau penyimpanan sel punca. Laboratorium ini beroperasi sebagai unit penyedia dan penyelenggara kegiatan pelayanan, pengolahan, pendidikan, pengembangan, dan penelitian sel punca.

Penelitian ini berbasis terapi pada berbagai kasus penyakit yang sangat sulit diobati atau mustahil untuk diobati. Beberapa jumlah kasus diantaranya defek tulang panjang dan tulang belakang, kelumpuhan akibat cedera saraf belakang, stroke , kaki diabetes, luka bakar, osteoporosis, penyakit jantung, kebotakan, lesiosteokondral, hingga diabetes melitus.

Indonesia menjadi satu di antara negara yang telah melakukan terapi sel punca bagi pasien umum di beberapa rumah sakit. Lebih dari 300 pasien telah mendapatkan manfaat dari terapi sel punca yang dibiayai dari berbagai hibah kompetitif dengan nilai lebih dari Rp36 miliar.

“Saya merasa bangga atas pencapaian yang dilakukan rekan-rekan di FKUI dan tentunya tidak hanya membanggakan UI, tetapi juga membanggakan sektor kesehatan Indonesia,” kata Menristek Bambang Brodjonegoro.

Pemerintah, tambah Bambang,ingin pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum tidak hanya diperuntukkan dalam negeri, tapi juga pasien mancanegara. Dia berharap pusat produksi sel punca mampu meningkatkan kualitas sel punca yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

“Terima kasih kepada FKUI sudah mau dan berhasil menjadi national coordinator untuk sel punca. Kami selalu menunggu kiprah FKUI untuk menyehatkan masyarakat, terutama untuk tindakan preventif,” ungkap Menristek.

Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Surat persetujuan penggunaan fasilitas telah diberikan kepada RSCM sebagai pemilik fasilitas setelah RSCM menyelesaikan proses renovasi fasilitas produksi sel punca untuk memenuhi persyaratan BPOM.Fasilitas dan produksi sel punca ini akan diawasi oleh BPOM dan Kementerian Kesehatan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pengolahan Sel Punca untuk Aplikasi Klinis dan Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun2018 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik.

Satu di antara pasien yang sudah mendapatkan manfaat dari sel punca adalah mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang saat itu menjalani proses natural killer cell (NK Cell). Dia melakukan proses pengobatan selama dua kali, yaitu pada akhir 2014 dan pada Februari 2015.

Meskipun Dahlan mengenal dokter di Jerman untuk terapi sel punca, dia lebih memilih melakukannya di RS Dr Sutomo Surabaya. Selain jauh lebihmurah, kualitas sel punca di Indonesia lebih baik daripada di Jerman.

“Bahkan, mungkin yang termurah di dunia, tapi hasilnya bagus. Sampai sekarang saya masih sehat dan tidak punya keluhan apa pun,” kata Dahlan.

Dahlan menambahkan, para dokter di Jerman hanya mengembangkan riset yang sudah ada. Dia juga mendukung pengobatan sel punca di Indonesia agar bisa dikenal di seluruh dunia.

Image result for sel punca fkui

Sel punca terdapat pada tahap terawal dari perkembangan tubuh (manusia) dan saat para ilmuwan menumbuhkan mereka, yang disebut sel punca embrionik. Alasan mengapa ilmuwan tertarik dengan sel punca embrionik karena tugas alaminya untuk membangun setiap organ dan jaringan tubuh selama dalam perkembangan.

Sel punca embrionik berbeda dengan sel punca dewasa yang tidak bisa membuat jaringan dan organ secara alami. Sel punca embrionik dapat berubah menjadi hampir semua ratusan jenis sel manusia lain.

Sebagai contoh, sel punca darah hanya dapat menciptakan darah. Sedangkan sel punca embrionik dapat menciptakan darah, tulang, kulit, otak,dan seterusnya.

Setelah peresmian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional, FKUI-RSCM juga ingin melakukan pengembangan lebih lanjut dalam penelitian sel punca untuk gagal ginjal akut, nerverege neration, demensia, alzheimer, dan penyakit lain yang tidak lagi merespons pengobatan konvensional. Berbagai inovasi dan keberhasilan yang didapat dari riset sel punca menjadikan sel punca sebagai obat masa depan. Hal ini membawa harapan kesembuhan dari berbagai penyakit yang awalnya sulit untuk disembuhkan.