Sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (17/1) akhirnya tidak menjadikan sesi Jumat keramat’ bagi pelaku pasar di Asia. Laporan menyebutkan, sentimen positif yang masih berthan di bursa Wall Street di sesi perdagangan sebelumnya yang semakin dikukuhkan oleh rolis data kinerja perekonomian China.

Laporan lebih jauh menyebutkan, pertumbuhan ekonomi China untuk tahun 2019 lalu yang mencapai kisaran 6,1% atau sesuai dengan  ekspektasi pelaku pasar. Langkah yang diekspektasikan akan diambil oleh otoritas China juga menjadikan sikap pelaku pasar bertahan optimis.

Aksi akumulasi akhirnya berlanjut, dan gerak naik indeks dulit dielakkan dalam menutup sesi perdagangan pekan ini. Hingga sesi perdagangan sore ditutup, indeks Nikkei (Jepang) terpantau melonjak 0,45% untuk menetap di 24.041,26, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) melambung 0,6% untuk berakhir di 29.056,42.

Lonjakan juga dibukukan bursa saham Australia, dengan indeks ASX 200 melompat 0,32% untuk menutup sesi di 7.064,1, dan pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI menanjak 0,11% untuk terhenti di 2.250,57.

Kepungan sentimen positif tersebut kemudian membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta mampu menginjak zona hijau. Gerak IHSG terlihat klonsisten menapak rentang terbatas di sepanjang sesi perdagangan. IHSG kemudian menutup sesi dengan menguat tipis 0,08% untuk singgah di 6.291,66.

Sementara laporan cerah kembali datang dari pasar valuta, di mana nilai tukar Rupiah membukukan penguatan yang mengesankan. Dengan sokongan sentimen dari AS dan China yang terus bertahan positif, Rupiah akhirnya sukses menundukkan kembali Dolar AS. Terkini Rupiah bertengger di kisaran Rp13.640 per Dolar AS atau menguat 0,1%.