Minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dijadikan Presiden Jokowi sebagai senjata ampuh melawan arogansi Uni Eropa. Presiden merasa jengkel lantaran Uni Eropa kerap menuduh CPO Indonesia tidak ramah lingkungan. Padahal, isu tersebut sengaja dihembuskan karena khawatir produksi minyak bunga matahari produksi Eropa menjadi tidak laku karena harganya lebih mahal ketimbang CPO.

Jokowi menjelaskan, saat ini ada 13 juta hektar lahan sawit dan produksinya mencapai 46 juta ton per tahun. Apabila produksinya dua kali lipat, maka bisa mencapai 100 juta ton CPO. "Per hektar 4 ton, harusnya 7 sampai 8 ton, bisa sampai 100 juta ton,” tandas Jokowi saat memberikan pidato di Rakernas PDP di Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Presiden lantas mengkritik sawit terkait dengan isu tak ramah lingkungan yang dimunculkan oleh Uni Eropa. Jokowi meyakini, isu ‘receh’ tersebut sengaja dimunculkan terus-menerus karena harga CPO jauh lebih murah daripada minyak bunga matahari.

Jokowi kemudian meminta agar CPO tak melulu diekspor tetapi dijadikan komoditas di dalam negeri seperti B20 dan B30. Presiden menegaskan dengan B20 yang berasal dari sawit, maka negara akan menghemat Rp110 triliun per tahun.

Sebelumnya, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Pike menegaskan tidak ada larangan impor CPO dari Indonesia ke Benua Biru. "Yang saya ingin klarifikasi adalah tidak ada yang namanya larangan untuk impor CPO dari Indonesia. Ekspor dari Indonesia sangat konstan," ujar Pike seperti dikutip dari Antara, Kamis (12/12/2019).

Berdasarkan data Uni Eropa, impor CPO asal Indonesia relatif stabil. Selama lima tahun terakhir, rata-rata impor CPO dari Indonesia mencapai 3,6 ton atau 2,3 miliar euro per tahun.

Mayoritas impor CPO juga berasal dari Indonesia dengan porsi 49 persen. Pike mengakui, persoalan minyak sawit menjadi salah satu isu utama yang mempengaruhi hubungan Uni Eropa dan Indonesia selama dua tahun terakhir.